 |
| sumber gambar: kenalpandeglang.blogspot.com |
sumber artikel: wikipedia.com
A. Sekilas Sejarah Pandeglang
Menurut Staatsblad Nederlands Indie No. 81 tahun 1828, Keresidenan
Banten dibagi tiga kabupaten: Kabupaten Utara yaitu Serang, Kabupaten
Selatan yaitu Lebak dan Kabupaten Barat yaitu Caringin.
Kabupaten Serang dibagi lagi menjadi 11 (sebelas) kewedanaan. Kesebelas
kewedanaan tersebut yaitu: Kewedanaan Serang (Kecamatan Kalodian dan
Cibening), Kewedanaan Banten (Kecamatan Banten, Serang dan Nejawang),
Kewedanaan Ciruas (Kecamatan Cilegon dan Bojonegara), Kewedanaan Cilegon
(Kecamatan Terate, Cilegon dan Bojonegara), Kewedanaan Tanara
(Kecamatan Tanara dan Pontang), Kewedanaan Baros (Kecamatan Regas, Ander
dan Cicandi), Kewedanaan Kolelet (Kecamatan Pandeglang dan Cadasari)
Kewedanaan Ciomas (Kecamatan Ciomas Barat an Ciomas Utara) dan
Kewedanaan Anyer (tidak dibagi kecamatan).
Menurut sejarah, pada tahun 1089 Banten terpaksa harus menyerahkan
wilayahnya yaitu Lampung kepada VOC (Batavia). Saat itu Banten dipimpin
oleh Sultan Muhamad menyusun strategi untuk melawan kekuasaan VOC.
Sultan Muhamad menjadikan Pandeglang sebagai wilayah untuk menyusun
kekuatan. Kekuatan kesultanan dipencar kepelosok Pandeglang seperti di
kaki gunung Karang dan di pantai.
Pandeglang dalam percaturan sejarah kesultanan Banten telah terbukti
merupakan daerah yang strategis. Hal ini bisa terlihat dari berbagai
peninggalan sejarah yang terdapat di wilayah Pandeglang. Semua itu bukan
hanya membekas pada benda yang berwujud, tapi juga membekas pada kultur
kehidupan masyarakat Pandeglang.
Peninggalan sejarah kesultanan Banten masih nampak terlihat dari seni
budaya yang ada di Pandeglang. Misalnya saja, Pandeglang merupakan Kota
Santri dan Pandeglang terkenal dengan daerah yang historis, patriotis
dan agamis. Julukan ini tidak serta merta timbul dengan sendirinya, akan
tetapi merupakan bentangan sejarah telah mencatatnya.
Saat ini Pandeglang tetap merupakan wilayah yang strategis di wilayah
Provinsi Banten. Sejarah kembali mencatat, Pandeglang dengan tokoh-tokoh
masyarakatnya memberi andil besar dalam pembentukan Provinsi Banten.
Sejarah Pandeglang mencatat juga, bahwa saat dipimpin oleh Bupati H. A.
Dimyati Natakkusumah, Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah Negeri dan
Swasta di Kabupaten Pandeglang Bebas Biaya Sekolah dan pada tahun 2007
pembangunan sarana pendidikan dibangun dengan menggunakan rangka baja.
Kembali kepada sejarah terbentuknya Kabupaten Pandeglang sejak tanggal 1
April 1874, tanah-tanah gubernur kecuali Bativia dan Keresidenan
Priangan telah Banten telah ditentukan, bahwa:
a. Jabatan Kliwon pada Bupati dan Patih dari Afdeling Anyer, Serang dan Keresidenan Banten dihapuskan.
b. Bupati mempunyai pembantu, yaitu mantri Kabupaten dengan gaji 50 gulden.
c. Kepala Distrik mempunyai gelar jabatan wedana dan Onder Distrik mempunyai jabatan Asisten Wedana.
Berdasarkan Staatsblad 1874 NO. 73 Ordonansi tanggal 1 Maret 1874 mulai
berlaku 1 April 1874 menyebutkan pembagian daerah, diantaranya
Kabupaten Pandeglang dibagi 9 distrik atau kewedanaan. Pembagian ini
menjadi Kewedanaan Pandeglang, Baros, Ciomas, Kolelet, Cimanuk,
Caringin, Panimbang, Menes dan Cibaliung.
Menurut data tersebut di atas, Pandeglang sejak tanggal 1 April 1874
telah ada pemerintahan. Lebih jelas lagi dalam ordonansi 1877 Nomor 224
tentang batas-batas keresidenan Banten, termasuk batas-batas Kabupten
Pandeglang dalam tahun 1925 dengan keputusan Gubernur Jenderal Hindia
Belanda tanggal 14 Agustus 1925 nomor XI. Maka jelas Kabupaten
Pandeglang telah berdiri sendiri tidak di bawah penguaasaan Keresidenan
Banten.
Dari fakta-fakta tersebut di atas dapat diambil beberapa alternatif,
yaitu pada tahun 1828 Pandeglang sudah merupakan pusat pemerintahan
distrik. Pada tahun 1874 Pandeglang merupakan kabupaten. Pada tahun 1882
Pandeglang merupakan kabupaten dan distrik kewedanaan. Dan pada tahun
1925 kabupaten Pandeglang telah berdiri sendiri. Atas dasar
kesimpulan-kesimpulan tersebut di atas, maka disepakati bersama bahwa
tanggal 1 April 1874 ditetapkan sebagai hari jadi Kabupaten Pandeglang.
B. Kepemimpinan di Pandeglang
Nama-nama Bupati Caringin/Menes masa jabatan 1827-2907, yaitu R.T.
Mandoera Radja Djajanegara (1827-1840), R.T. Wiradidjaja (1840-1849),
R.T.Koesoemanegara (1849-1849), R.T.Aria Adipati Soerjanegara
(1849-1872), R.T. Dajanegara (1872-1883), R.T. Adipati Koesoemadiningrat
(1883-1896), R.T. Soera Adiningrat (1896-1898) dan R. Soeria
(1898-1908).
Sedangkan nama-nama Bupati Pandeglang masa jabatan dari tahun 1848
yaitu R.T. Aria Tjoncronegoro (1848-1849), R.T.Aria Natadiningrat
(1849-1870), R.T. Pandji Gondokoesoemo I (1870-1870),
R.T.Soetadindingrat (1870-1888), R.T.Abdul Gafoer Soerawinangoen
(1888-1898), R.T.Soera Adiningrat (1898-1910), R.T. Mas Kanta
Astrawijaya (1910-1914), R.T. Adipati Hasan Kartadiningrat (1914-1927),
Rd. Aria Adipati Wiriaatmadja (1927-1927), Rd. Aria Adipati Soerja
Djajanegara (1927-1941).
Selanjutnya, nama-nama Bupati Pandeglang pada era kemerdekaan, yaitu
R.T. Mr. Djoemhana Wiraatmadja (1941-1945), K.H. Tb. Abdoelhalim
(1945-1947), Mas Soedibjadjaja (1947-1948), Mas Djaja Rukmantara
(1948-1949), Rd. Hola Sukmadiningrat (1949-1956) Rd. Moch. Noch
Kartanegara (1956-1957), Rd. Lamri Suriaatmadja (1957-1957), Rd. Muhdas
Suria Haminata (1957-1958), Rd. Harun (1958-1959), M. Ebby (1959-1961),
Rd. Moch. Sjahra Sastrakusuma (1961-1964), Rd. Akil Achjar Mansjur
(1964-1964), Rd. Syamsudin Natadisastra (1964-1968), Drs. Rd. Machfud
(1968-1968), Drs. Karna Suwanda (1968-1973), Drs. H. Karna Suwanda
(1973-1975), Drs. H. Karna Suwanda (1975-1980), Drs. Suyaman
(1980-1985), Drs. H. Suyaman (1985-1990), H.M Zein, BA (1990-1995) Drs.
H. Yitno (1995-2000), H.A. Dimyati Natakusumah, SH, MH (2000-2009), Drs.
H. Erwan Kurtubi, MM (28 Oktober 2009 s/d November 2010), Asmudji HW
memangku jabatan sebagai Penjabat Bupati (November 2010 s/d Maret 2011),
dan Drs. H. Erwan Kurtubi, MM (Maret 2011 s/d Sekarang)
Sedangkan Drs. H. Erwan Kurtubi, MM memangku jabatan Bupati Pandeglang
dimulai pada Maret 2011 s/d saat ini yang sebelumnya mendapat
kepercayaan dari masyarakat melalui pemilihan langsung pertama kali
dalam sejarah perpolitikan di Pandeglang sebagai wakil bupati pandeglang
pada periode 2005-2009. Beliau merupakan Bupati yang ke 34 secara
urutan periode, sedangkan secara berurutan nama merupakan Bupati
Pandeglang yang ke 30. Hal ini disebabkan ada beberapa orang bupati yang
menjabat lebih dari satu periode kepemimpinan.